Makna Brahmavihara

Brahmavihara Arama terdiri dari tiga kata yaitu: Brahma, Vihara dan Arama. Brahma berarti agung, sangat luhur, terpuji, mulia. Vihara berarti cara hidup, dan Arama berarti tempat. Sering pula dijumpai bahwa kata Vihara diberi arti sama dengan Arama yaitu sebagai suatu tempat tinggal. Dari arti kata tersebut, maka makna Brahmavihara Arama adalah suatu tempat untuk melatih diri, menempa perilaku luhur/terpuji yang meliputi Metta, Karuna, Mudita dan Upekkha. Pemberian nama Brahma Vihara oleh Almarhum Bhante Girirakkhito selaku Founding Father sangat sejalan dengan tujuan pendiriannya.
Perilaku luhur yang meliputi Metta, Karuna, Mudita dan Upekkha. Ini dapat digali, dihayati, disadari dan dipraktekkan melalui jalan meditasi Vipassana Bhavana, karena Brahma Vihara sekaligus dapat dijadikan objek meditasi. Berkenaan dengan itulah Brahmavihara Arama diproklamasikan oleh Bhante Girirakkhito sebagai salah satu tempat meditasi. Kita menyadari dan meyakini bahwa manusia itu terdiri dari Rupa dan Nama yaitu tubuh/badan dan bhatin yang juga disebut sebagai Panca khanda. Panca khandha adalah lima kelompok kehidupan yang terdiri dari badan jasmani/tubuh (Rupa), perasaan, pencerapan, pikiran dan kesadaran (Nama) Panca khandha inilah yang disebut hidup dan kehidupan atau lazim disebut manusia.

Oleh karena terdiri dari dua kelompok (Nama dan Rupa) maka dalam kehidupan memerlukan dua kelompok makanan/kebutuhan yaitu:

  1. Untuk kelompok Rupa (badan, jasmani/tubuh) memerlukan 4 (empat) kebutuhan pokok yaitu: makanan (pangan), pakaian (sandang), tempat tinggal (papan) dan obat-obatan. Tempat tinggal jasmani disebut juga Vihara-fisik.
  2. Untuk Nama (bathin) memerlukan Dharma/Dhamma/ajaran spiritual, Ilmu pengetahuan dan juga tempat tinggal yang juga disebut vihara. Vihara disini merupakan suatu kondisi bathin-abstrak.

Berdasarkan kelompok tersebut maka Vihara sebagai tempat tinggal bathin adalah sebagai berikut:

  1. Brahmavihara Arama terdiria. Metta/Maitri
    Cinta kasih yang murni yang diberikan kepada semua mahkluk (universal) yang menembus tirai-tirai manusia berupa ras, suku, bangsa, agama, jenis kelamin, usia, tempat tinggal dan lain sebagainya. Cinta kasih ini hakekatnya menghendaki semua mahkluk dapat hidup sejahtera (dalam arti kebutuhan pokok terpenuhi, damai, terlindung, aman, sehat).
    – Metta/Maitri juga dapat diartikan sebagai sahabat yang setia. Sedangkan lawan langsung dari Metta /Maitri adalah kebencian dan itikad buruk. Lawan tidak langsungnya adalah nafsu, keinginan yang bersifat jasmani, keterikatan terhadap nafsu-nafsu indrya dan kegiuran atau kemelakatan terhadap “Aku”(Pema/Prema). Metta adalah suatu keadaan bathin yang bersih seperti air raksa yang tidak melekat pada apapun.
    – Metta menempati suatu tempat sebagai subjek tetapi tidak melekat pada subjeknya.
    – Metta menyasar suatu objek tetapi tidak melekat pada objek atautanpapamrih.
    – Metta merupakan bahasa hati yang menghubungkan satu sama lain serta menyatukannya (sebagai alat pemersatu).
    – Metta membantu tetapi tidak mencampuri.
    – Metta mencintai tetapi bijaksana, tidak melekat dan sekaligus tidak menyakiti.
    – Metta memberi tetapi tidak menuntut dan tidak bangga.
    – Metta tidak lemah tetapi lembut dan tegar.
    Perbuatan Metta dilakukan dengan tekad untuk menolong, membebaskan, membahagiakan dan melapangkan jalan.
    Cara-cara untuk mengembangkan Metta adalah:
    Membuang sifat jahat, kebencian, marah dan dendam.
    Merenungkan manfaat mengasihi, mencintai melalui pemusatan pikiran pada hukum karma.

    b. Karuna:
    kasih sayang yang tulus kepada semua mahkluk yang menderita. Ikut merasakan beban penderitaan serta membantu mengeliminir penderitaan yang dialami. Lawan langsung Karuna adalah kekerasan dan kekejaman. Sedangkan lawan tidak langsung atau terselubung adalah kesedihan. Karuna akan menghindari kejahatan dan kekejaman sekecil apapun serta berupaya melenyapkan penderitaan mahkluk lain tanpa memandang ras, agama, jenis kelamin, suku, bangsa, usia dan tempat tinggal (Universal) dan memberikan sesuatu yang menentramkan. Semua perbuatan baik, sifat-sifat baik mempuhyai dasar Karuna sebagai pangkal pijakan (Karuna Nidhanam Nisilam).

    c. Mudita:
    merupakan kegembiraan yang timbul dari hati nurani atas keberhasilan orang lain. Mudita adalah simpati tanpa keakuan. Lawan langsungnya adalah irihati, dengki dan ketidak-senangan. Sedangkan lawan terselubungnyaadalah luapan emosi.
    Sifat Karuna dan Mudita ibarat sekeping matauang: berbeda tetapi tak dapat dipisahkan.

    d. Upekka/Upeksa:
    keseimbangan bathin yang timbul akibat perenungan terhadap sebab-akibat/Hukum Karma serta memiliki pengertian tentang kesunyataan sehingga membuat pikirannya tenang dan tidak tergoyahkan. Lawan langsung dari Upekka adalah keterikatan, sedangkan lawan terselubung adalah sifat acuh tak acuh yang diakibatkan oleh kebodohan bathin. Metta merangkul semua mahkluk, Karuna menyentuh orang yang sedang menderita, Mudita menumbuhkembangkan semangat bagi yangberhasil dan yang tidak berhasil, yang baik dan yang jahat yang dikasihi maupun yang terlantar, yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang tampak buruk maupun yang cantik dengan tanpa pilih kasih. Upekkha tidak hanyut atau terlena terhadap atthaloka dhamma atau perubahan delapan macam dari kehidupan yaitu: untung-rugi, tidak mashur-termashur, dipuji-dicela, suka-duka.

  2. Dibba Vihara, terdiri dari:
    a. Hiri:
    Rasa malu untuk melakukan perbuatan yang tidak baik.
    b. Ottapa:
    Rasa takut akan akibat dari perbuatan yang tidak baik.
  3. Dhamma Vihara adalah merupakan jantung kehidupan manusia, yaitu:
    Jangan berbuat jahat
    Berusahalah untuk menambah kebaikan
    Sucikan hati dan pikiran
    Inilah ajaran paraBuddha.
  4. Arya Vihara, terdiri dari:
    • Sila: Latihan kedisiplinan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik yang dapat menimbulkan kerugian bagi orang/mahluk lain.
    • Samadhi: Pengembangan bathin untuk mencapai ketenangan dan pandangan terang.
    • Panna: Kebijaksanaan yang timbul sebagai akibat dari pelaksaan sila yang baik. Merekayang memiliki ke bijaksanaan akan mencapai kebahagian sejati.
    Untuk membangun vihara sebagai tempat tinggal kita butuh material, kemauan, tenaga dan uang. Sedangkan untuk membangun vihara dalam bathin kita membutuhkan Sati dan Sampa janna. Sati adalah keadaan yang selalu sadar, penuh perhatian dan kesadaran yang ditujukan kepada Brahmavihara, Dibhavihara, Dhammavihara dan Arya vihara. Sampajanna berarti sadar akan apa yang sedang dilakukan, selalu mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh mata, hidung, telinga, anggotatubuh lain- nyasertapikiran.
    Brahmavihara, Dibbavihara, Dhammavihara dan Aryavihara sangat baik dan tepat digunakan sebagai landasan filosofis hidup berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara sehingga mampu menciptakan kedamaian dan perdamaian dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s